30/08/2011

"kultusd : bersedih ditengah badai kegembiraan" sebuah catatan di penghujung i'tikaf by Andri Al-Fatih on Sunday, 28 August 2011 at 20:42


"kultusd (kuliah terserah ustadz) subuh kali ini akan dibawakan oleh Al-ustadz al-mukkarram rahmadi kurnia ..."
istilah baru sang protokol mengakhiri sambutannya dan diikuti tawa para peserta i'tikaf ramadhan yang diselenggarakan sejak tanggal 19 Agustus kemarin 1432 H di masjid yayasan Adzkia yang didirikan oleh gubernur SUMBAR, Irwan Prayitno..

tak seperti malam-malam sebelumnya, subuh kali ini sedikit istimewa. sejak qiyamulail jam 3 dini hari, gubernur SUMBAR DR. Irwan Prayitno hadir ditengah-tengah kami tanpa sebab khusus, tanpa undangan, tanpa pengawal dan para algojonya disela-sela kesibukannya sebagai Gubernur, tak hanya itu bersama anak-anak Beliau ikut sahur bersama dengan kami "makan batalam" dan beralaskan lantai yang dingini.


"satu talam diisi oleh 5 orang" begitu instruksi Panitia.
saya termasuk orang yang terlambat mengambil posisi dan tanpa saya sadari posisi yang saya dapati tepat disamping Gubernur SUMBAR.hehehehe.. (biasa aja kok)
i'tikaf malam ini juga dihadiri ketua DPW PKS SUMBAR trinda farhan..lagi..lagi tanpa undangan dan lainnya..ketika saya terbangun untuk qiyamullail, saya sudah mendapati beliau membaca Al-Qur'an dengan khusu'nya ditengah-tengah tidurnya para peserta karena sudah keletihan dimalam kemarin.

ba'da tahmid dan shalawat sang ustadz muda Doktor lulusan jepang memulai ke inti ceramahnya..

"ikhwah sekalian yang dirahamati Allah SWT....andaikan benar 30 agustus adalah hasil sidang isbat keputusan pemerintah jatuhnya Aidil Fitri, maka benarlah bahwa terawih kemarin adalah terawih terakhir kita dibersamai oleh Ramadhan 1432 H, andaikan benar.. maka benarlah bahwa subuh yang barusan kita lakukan adalah Subuh terakhir kita bersama bulan suci ramadhan..."

spontan para peserta yang tadinya masih memiiki sisa-sisa tawa dari lelucon santai sang protokol mulai terdiam...dan tersadarkan... ada sesak didada, beberapa orang dari peserta terlihat matanya mulai berkaca-kaca. suara sang ustadzpun bergetar saat melanjutkan ucapannya.

untaian demi untaian kata sang ustadz semakin menyadarkan kami.... bahwa memang benar Ramadhan akan meninggalkan kita semua...
beragam pengalaman-pengalaman unik kita rasakan bersama Ramadhan... bulan penuh keberkahan, didalamnya terdapat malam yang lebih baik (bukan setara) dari 1000 bulan... berbagai kenikmatan-kenikmatan yang kita dapatkan yang hanya ada dibulan Ramadhan.... berbagai keutamaan2 yang hanya ada dibulan Ramadhan....

Ramadhan telah mengajarkan kita bagaimana memandang kehidupan didunia ini dengan benar...
mengajakarkan bagaimana kita berinteraksi dengan Tuhan dengan benar...
hidup berbagi terhadap sesama dengan benar....
yang kesemuanya mungkin tidak akan pernah kita dapatkan dibulan-bulan lainnya..

2 orang yang saling bermusuhan, tiba2 menjelma menjadi sodara.. itu terjadi dibulan Ramadhan..
para hartawan tiba2 menjelma menjadi seorang dermawan...
mesjid2 menjadi ramai dengan shalat berjama'ah dan berdampingan dengan berbagai sahabat yang tak kita temui dibulan2 lainnya...

dan kini, perlahan Ramadhan akan meninggalkan kita semua
kedepan yang ada hanyalah bulan-bulan sulit sepanjang tahun selama 11 bulan.. dan tak kan ada keutamaan melebihi bulan suci Ramadhan...

"hari ini Ramadhan masih akan membersamai kita pada saat Dzuhur dan Ashar...hanya itu.."
" dan akan bagaimanakah perasaan kita dalam menyambut kepergianya yang Pasti!...."

ada beberapa pesan sang ustadz, tentang bagaimana hendaknya perasaan kita dalam menyambut kepergiannya;

pertama, gembira
sebagaimana yang disunnahkan oleh rasulullah.. tentang bagaimana kita menyambut hari kemenangan, hari keberhasilan kita yang telah menyambut tamu "kebaikan" ini  dengan optimal.

kedua, sedih.
sedih karena bulan istimewa ini kan meninggalkan kita semua.

ketiga, harap dan cemas
harap dan cemas akan pembuktian janji Allah SWT... Fitrah bagi mereka yang serius dalam ramadhan (bersih selayaknya kita dilahirkan) dan berbagai do'a2 yang diijabah Allah SWT.
"penuhilah kepala kita dengan harap dan cemas, niscaya kita kan jadi soko guru peradaban dunia" untaian kata sang ustadz mengakhiri.

keempat, Rindu.
rindu akan hadirnya Ramadhan tahun depan.... tak ada siapapun yang dapat menjamin hidupnya bahwa dapat bertemu kembali dengan ramadhan tahun depan..

saat sang ustadz mengakhiri ceramahnya, saya telah mendapati para lelaki-lelaki jantan telah menjadi bayi besar.. tangisnya tak tertahankan..semua bersedih.

sesaat saya juga memperhatikan seorang bapak paruh baya yang paling bersedih diantara lainnya, isak tangisnya sedu sedan. saya tidak terlalu mengenal beliau, tapi kami sama2 orang pariaman, beliau juga bukan kader, tidurnya tepat disebelah kami (para pujangga UNP). saya selalu ingin untuk bangun lebih awal dari lainya, namun saya selalu mendapati beliau dalam keadaan shalat, berdoa, atau juga baca qur'an.... saya sedikit terheran, apakah kira-kira yang membuat beliau terlalu bersedih? bahkan ia mampu menjalankan ibadah lebih optimal dibandingkan kaum muda seperti kami....oh Tuhan... ataukah ia percaya bahwa Ramadhan tahun depan takkan membersamainya lagi...????
ya Allah.. bapak ini memang sudah tua, namun tak ada jaminan usiaku melebihi Ramadhan tahun depan...

Ya Allah.. berkahi kami di bulan-bulan panjang ini. wa balighna ramadhan (dan sampaikan kami di bulan Ramadhan) tahun depan.

0 comments: